Redaksi24@ • Mei 05 2026 • 203 Dilihat

R24, HALSEL Keberlanjutan lingkungan sering dipahami sebagai isu besar. Padahal, ia hidup dalam keseharian. Dari cara menggunakan listrik, mengelola sampah, hingga menjaga ruang hidup bersama. Perubahan jarang dimulai dari langkah besar. Ia tumbuh dari tindakan sederhana yang dilakukan berulang, lalu menjadi kebiasaan.
Pada 31 Maret 2007, lebih dari 2,2 juta orang di Sydney mematikan lampu selama satu jam. Aksi ini dikenal sebagai Earth Hour. Sederhana, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa perubahan bisa dimulai dari hal kecil. Seiring waktu, maknanya bergeser. Fokusnya tidak lagi pada satu jam, tetapi pada apa yang dilakukan setelahnya.
Di titik itu, keberlanjutan tidak lagi bergantung pada momentum. Ia menjadi soal konsistensi. Kesadaran perlu diterjemahkan menjadi praktik yang bisa diulang. Pendekatan ini terlihat dalam dua konteks berbeda: ruang kota dan wilayah pesisir.
Di Kota Ternate, semangat Earth Hour berkembang menjadi ruang edukasi publik. Untuk kali kedua, Pemerintah Kota Ternate bersama Harita Nickel menggelar Earth Hour 60+ di Benteng Oranje pada 25 April. Selama satu jam pemadaman, masyarakat diajak memberi ruang bagi bumi untuk “beristirahat”, sekaligus mendorong perubahan perilaku sederhana di rumah, seperti mematikan perangkat yang tidak digunakan.
“Kesadaran menjaga bumi dapat dimulai dari tindakan sederhana di rumah,” jelas Sekretaris Daerah Kota Ternate, Rizal Marsaoly.
Selain pemadaman lampu, masyarakat diajak memahami pengurangan plastik dengan pembagian 1.000 kantong kain, pentingnya ruang terbuka hijau, serta kebiasaan penggunaan energi yang lebih bijak.
Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Ternate, Muslih Muhammad, melihat kolaborasi ini relevan dengan arah pembangunan kota. “Kolaborasi antara pihak swasta dan pemerintah secara bersamaan mendorong penguatan serta implementasi pengelolaan lingkungan di lapangan,” jelasnya.
Namun kesadaran di ruang kota memiliki batas jika tidak terhubung dengan realitas yang lebih konkret.
Aksi Bersih Pantai: Angkut 3,2 Ton Sampah di Kawasi
Di pesisir Desa Kawasi, Pulau Obi, langkah ini terus berlanjut. Warga bersama karyawan Harita Nickel, serta unsur TNI dan Polri membersihkan garis pantai sekaligus menumbuhkan kesadaran bersama dalam kelestarian ekosistem laut. Sekitar 3,2 ton sampah dalam waktu singkat berhasil terkumpul dan. dibawa ke fasilitas pengelolaan untuk diproses lebih lanjut di Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST).
Kegiatan ini dilanjutkan dengan edukasi pengelolaan sampah. “Botol plastik bisa bertahan hingga ratusan tahun, sementara beberapa jenis limbah seperti styrofoam tidak mudah terurai. Jika masuk ke laut, dampaknya akan kembali ke manusia, termasuk masyarakat pesisir,” jelas Kevin, fasilitator kegiatan dari Harita Nickel, kepada para peserta.
Pendekatan kegiatan juga dibuat partisipatif. Peserta dibagi dalam kelompok dan mengikuti berbagai tantangan sederhana, seperti pengumpulan sampah terbanyak, kategori sampah terunik, hingga kelompok paling kompak. Hal ini mendorong keterlibatan masyarakat, termasuk kelompok ibu-ibu desa Kawasi yang tampak paling antusias.
“Melalui kegiatan ini, kami jadi lebih sadar pentingnya menjaga kebersihan pantai. Harapannya kegiatan seperti ini bisa terus dilakukan,” ujar salah satu warga.
Head of Technical Support Harita Nickel, Dian Kristiyanto, menekankan pentingnya menjaga ekosistem pesisir secara konsisten. “Pesisir dan laut merupakan bagian penting dari ekosistem sekaligus sumber penghidupan masyarakat. Karena itu, penjagaannya perlu dilakukan secara konsisten dan kolaboratif. Kami rutin selenggarakan kegiatan ini bersama masyarakat,” ujarnya.
Dua konteks ini menunjukkan pola yang sama. Keberlanjutan terbentuk dari kombinasi kesadaran, tindakan, kolaborasi, dan pengulangan. Seperti dicatat oleh Ian Scoones, seorang peneliti senior di Institute of Development Studies, keberlanjutan menjadi titik temu berbagai aktor dan bekerja lebih efektif ketika diterjemahkan dalam konteks lokal.
Dari sini, makna keberlanjutan menjadi jelas. Bukan soal satu jam, tetapi kebiasaan yang terus berjalan. Dari Ternate hingga Kawasi, keberlanjutan lingkungan kita adalah kerja bersama yang dilakukan secara nyata dan konsisten. []
R24, Ternate, – Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan meminta Koperasi Desa/Kelurahan M...
R24, TERNATE – Wakil Bupati Halmahera Utara, Kasman Hi Ahmad, menghadiri Seminar Nasional Kopera...
R24, HALTENG– Program Bakti TNI AD untuk Rakyat di Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara, resmi...
R24, Ternate-Manager Fuel Terminal Ternate, Giyanto, menghadiri kegiatan pembukaan Open Tournament S...
R24, HALUT-Bupati Halmahera Utara Piet Hein Babua hadir di acara penandatanganan Berita Acara Verifi...
R24, HALUT- Bupati Halmahera Utara Piet Hein Babua menerima sertifikat eliminasi malaria dari Kement...
R24, Halmahera Tengah – Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Halmahera Tengah menghadiri kegiatan Pelantikan Patroli Keamanan Sekolah (PKS) S...
R24, Jakarta- Bupati Halmahera Tengah, Ikram M. Sangadji, menegaskan pentingnya penyelesaian menyeluruh terhadap persoalan yang terjadi di kawas...
R24, HALTENG- Bupati Halmahera Tengah, Ikram Malan Sangadji, menghadiri sekaligus meresmikan gedung baru dan Pondok Pesantren Al-Fatah Sunan Amp...
R24, SOFIFI-Fuel Terminal Manager Pertamina Ternate, Giyanto, menghadiri puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-53 Himpunan Nelayan Seluruh...
R24, HALTENG– Dalam rangka uji kelayakan Water Treatment Plant (WTP) yang dibangun oleh PT Indonesia Weda Bay Industrial Park, Bupati Halmaher...

No comments yet.